Posted by: galerihati on: September 22, 2009
Sering kali kita mendengar bahwa masa lalu adalah pengalaman, dan pengalaman itu adalah guru terbaik. Hal itu ada benarnya, namun tak jarang pengalaman masa lalu pun dapat menyebabkan hal baru yang kita alami sekarang menjadi tak mudah dihadapi.
Dalam setiap kesempatan, tentu kita mengalami kejadian yang beraneka ragam, ada kejadian yang menyenangkan hingga membuat kita mencapai puncak keberhasilan, ada pula saatnya kita melalui masa-masa sulit, dimana saat itu kita mengalami kejadian yang membuat kita harus menjalani kehidupan yang menyedihkan.
Mungkin ketika masa jaya kita masih dihadapan mata, kita tak merasakan getirnya bercerita tentang keberhasilan kita di masa lalu, namun coba kita ceritakan keberhasilan yang sama ketika kita berada di masa sulit, tentu apa yang kita rasakan jauh berbeda. Kita akan merasa makin tak berdaya dan cenderung meremehkan diri sendiri. Bahkan kita akan meremehkan pekerjaan baru yang lebih mudah dari pekerjaan yang sudah mengantarkan kita pada puncak keberhasilan di masa lalu.
Akibatnya, kita menjadi sombong dan meremehkan pekerjaan baru, sehingga perlahan kita berjalan menuju lembah kegagalan.
Contohnya seperti ini, tahun 2004 sampai 2006, ada seorang lelaki muda berhasil mencapai penghasilan 6 juta sebulan tanpa dipotong pajak apapun. Saat itu ia bekerja sebagai seorang pengajar di sekolah swasta dan pengajar privat dari rumah ke rumah. Selama kurun waktu itu, ia cukup dikenal sebagai pengajar bertangan dingin. Artinya tiap murid privat yang dipegangnya selalu mengalami peningkatan yang berarti. Hebatnya, dari pekerjaan itu, ia pun mampu membeli dua buah sepeda motor.
Namun, apa mau dikata, tahun berikutnya, pemuda ini mengalami kemunduran dalam kariernya. Cobaan yang maha dasyat mengakibatkan hidup pemuda itu menjadi terpuruk, tabungannya pun perlahan habis tak bersisa. Kondisi itu membuatnya harus beralih profesi. Awalnya tak mudah baginya untuk memulai kembali. Hal itu disebabkan oleh pikirannya yang masih mengingat keberhasilannya di masa lalu. Namun seinring waktu yang berjalan, ia mulai menyadari bahwa masa lalu cukup disyukuri. Sejak saat itu, pemuda itu kembali semangat dan mencetak beberapa keberhasilan dalam tempat kerja barunya.
Dari contoh di atas dapat kita lihat bahwa pada hakikatnya keberhasilan di masa lalu, merupakan bonus dalam hidup kita. Bonus ini untuk dinikmati saat tertentu saja. Sifatnya hanya temporari atau sementara. Artinya, saat kita memulai hal baru di hari yang baru, maka keberhasilan itu hendaknya kita simpan saja dalam lemari pikiran kita. Cukup disimpan saja, kemudian kita memulai dengan kegiatan yang baru.
Untuk itu, akan lebih baik bila kita memandang tiap keberhasilan yang kita raih dengan biasa. Sebab bila tidak, kita akan selalu mengingat keberhasilan itu dengan kuat hingga semangat kita akan mengendur dan perlahan kinerja kita terpengaruh hingga turun. Keberhasilan merupakan bagian dari kerja keras, bukan karena keberuntungan atau angan-angan kita. Hal itu menjadikannya wajar dan tak terlalu istimewa dalam hidup. Memang adakala sebuah keberhasilan patut dirayakan dan diberi penghargaan sepadan dengan upayanya, namun setelah keberhasilan itu berlalu, akan lebih baik bila kita mensyukurinya, bukan mengenangnya. Sebab dengan mensyukurinya maka kita akan tahu cara lain untuk melakukan upaya baru hingga berhasildan menikmatinya dengan rasa yang baru.
Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan luar biasa. Dengan membuka hati dan tak berputar pada kejayaan serta keberhasilan masa lalu, menjadikan diri kita mundur dan tak berkembang terus tanpa batas.
Posted by: galerihati on: Juni 29, 2009
Secara harafiah, dunia bekerja tak ubahnya seperti dunia dalam keluarga. Ada yang berperan sebagai ayah, ada pula yang berperan sebagai ibu, atau kakak serta adik.
Nah, biasanya sih Bos atau pimpinan kita itu berperan sebagai seorang ayah. Mereka tak hanya bertugas mengarahkan laju perusahaan, namun mereka pun memikirkan seluruh anggota perusahaan.
Tentu bukan hal mudah bagi mereka untuk melakukannya. Oleh karena itu, wajar bila pada hari-hari tertentu emosi mereka tak stabil dan berimbas pada kita sebagai anak buah. Banyak dampak yang mereka berikan pada kita, bisa berupa tambahan pekerjaan, atau pekerjaan plus-plus, ya plus makian, plus hinaan, bahkan plus lemparan pekerjaan yang sudah kita lakukan dengan maksimal.
Bila hal itu terjadi, bagaimana seharusnya kita berlaku? Apakah membalasnya dengan mogok bekerja, atau pura-pura mengerti lalu melalaikan pekerjaan yang ada?
Kebiasaan yang sering sekali kita lakukan ialah sering membandingkan pekerjaan dengan rekan kerja. Kita sering berpikiran “apa-apa saya, apa-apa saya” hingga melihat teman yang selalu bersenang-senang dengan pekerjaan yang tak jelas arahnya. Kemudian hal itu berubah menjadi iri dan rasa malas. Bila itu dibiarkan, maka kondisi itu akan bertambah besar dan menghimpit dada sendiri. Akibatnya, kita makin emosi dan timbul keinginan untuk berhenti serta mencari pekerjaan lain.
Dalam kondisi itu, sebaiknya kita mensyukuri kebijakan bos atau pimpinan yang sering memberikan tugas lebih dari seharusnya. Ya, dengan adanya tugas lebih itu, maka kita dapat belajar lebih banyak lagi. Kita akan tahu lebih banyak dari teman-teman setingkat kita. Kemudian bila berhasil mengerjakan tugas itu, kemungkinan kita untuk dipromosikan lebih besar dari rekan kerja lainnya.
Kemudian, bila kita mengetahui bahwa tipe bos kita itu pemarah dan cenderung bekerja cepat, ya apa salahnya bila kita pun berusaha mengimbanginya semaksimal mungkin. Caranya mudah yaitu dengan bekerja lebih konsentrasi dan belajar lebih banyak. Artinya bila pekerjaan yang dilimpahkan ke kita banyak, ya kita prioritaskan dulu pekerjaan itu, dan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari pekerjaan yang membuang-buang banyak waktu, seperti merokok atau bergosip dengan rekan kerja. Selanjutnya usahakan agar pekerjaan itu lebih cepat dari waktu yang diberikan oleh bos. Misalkan waktu yang dijatahkan itu dua hari, ya kita berjuang keras untuk menyelesaikannya dalam waktu sehari. Tentu pengorbanan akan lebih banyak dan berat, namun manfaat dibelakangnya jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Bukan hanya pujian yang kita peroleh, melainkan kepercayaan dari atasan semakin besar buat kita. Dengan demikian, kesempatan bagi kita untuk belajar pun akan semakin banyak.
Namun sebaliknya, bila kita menerimanya dengan keluhan dan bermalas-malasan, apalagi sampai membuat pekerjaan itu terlambat, maka jangan salahkan bila bos akan memaki kita lalu membuang kita dari perusahaan.
Dari dua kejadian di atas, dapat kita lihat dan renungkan, sebenarnya bos kita yang cerewet atau kita yang payah? Kalau bos kita yang cerewet itu sih sudah biasa. Namun, sebaiknya kita yang harus lebih tegar dan semangat melakukan setiap pekerjaan yang diberikan bos. Sebab dengan semangat itu maka kita menunjukkan kemampuan kita sebagai karyawan yang berdedikasi dan tangguh. Dengan demikian, bos akan makin percaya dan dapat memberikan kesempatan yang lebih besar buat kita.
Intinya adalah sayangi diri kita dengan banyak belajar. Pekerjaan berat dan banyak bukan beban melainkan kesenangan. Sulitnya pekerjaan bukan rintangan untuk menjatuhkan kita dari persaingan, melainkan sebagai pupuk yang menguatkan diri kita untuk berkembang menjadi lebih besar dari sekarang.
Pekerjaan bukan beban, melainkan tanggung jawab. Sebab tak ada pohon besar dengan daun sedikit serta akar yang pendek. Tentu sebatang pohon besar pasti memiliki daun yang lebat serta akar yang merambat hingga lapisan terdalam pada lapisan tanah. Saat tumbuh pun, sebatang pohon memerlukan waktu dan tempaan alam yang lebih berat dari apa yang kita bayangkan. Setiap hari mereka diterpa hujan, ditiup angin, dibakar sinar matahari, sampai tak jarang dikotori oleh anjing atau anak kecil.
Dengan merenungi perjalanan hidup pohon untuk menjadi besar, kita sebaiknya menikmati setiap pekerjaan yang ada dan bukan menyesalinya. Sebab apa yang kita lakukan hari ini, merupakan berkah dan pelajaran hidup hari ini. Ingat, bukan bos yang cerewet, melainkan kita yang payah kalau setiap kali mengeluh dan marah bila diberi tanggung jawab lebih.
Posted by: galerihati on: Mei 29, 2009
Orang percaya dan yakin bahwa membuat orang lain tertawa itu akan mendapat pahala. Anggapan saja hal itu ada benarnya, sebab ketika seseorang dalam kondisi sedih atau murung, lalu kita datang untuk menghiburnya, maka kita sudah membuatnya senang dan bahagia. Dengan itu, kita sudah mendapatkan pahala budi kebaikan. Namun, bila ada orang lain yang menertawakan kita tanpa sebab yang jelas, apalagi di belakang kita secara berbisik-bisik, terkadang membuat kita tak terima dan tak senang. Emosi kita perlahan mulai naik dan seakan-akan ingin memukul orang itu.
Sebenarnya dua kejadian itu sama dan serupa. Baik itu kita sengaja membuat orang lain tertawa, maupun orang lainlah yang menertawakan kita tanpa sebab. Persamaannya yaitu membuat orang lain tertawa karena kita. Walaupun ada persamaan makna dari kedua kejadian itu, tapi reaksi yang kita lakukan pun berbeda.
Pada kejadian pertama, semakin kita membuat orang lain tertawa maka hati kita semakin puas dan bahagia. Lantas, bila semakin keras seseorang menertawakan tanpa sebab di belakang kita, tentu kita pun akan emosi.
Dari sini kita dapat melihat bahwa pembeda yang ada ialah karena hati kita sendiri yang belum paham akan persamaan itu. Bila kita sudah mengerti dan paham bahwa konsep keduanya sama-sama, maka kita akan senang bila ada orang yang secara diam-diam tertawakan kita. Namun, bukan berarti bahwa kita sengaja melakukan sesuatu yang menyebabkan orang lain bergosip dan menjadikan kita sebagai buah bibir. Bila demikian, itu berarti kita sendiri yang kurang pendidikan atau cenderung sakit jiwa.
Pepatah berkata bahwa ketika seorang menertawakan kita, maka itu berarti mereka sayang pada kita. Hal itu benar, karena mereka ingin membagikan keceriaan ke kita. Mereka ingin bantu membahagiakan kita. Coba bayangkan bila yang mereka bagikan itu tangisan, tentu perasaan kita pun akan sedih dan akibatnya batin kita pun jadi murung sepanjang hari.
Sekarang pilihan tergantung pada diri kita. Kalau ingin bahagia sepanjang hari, maka biarkan hari-hari kita diisi oleh tawa. Jangan hiraukan darimana asalnya tawa itu datang, namun syukurilah bahwa di sekeliling kita masih banyak tawa yang dapat kita lihat.
Bukankah melihat tawa jauh lebih indah daripada melihat tangisan.
Posted by: galerihati on: Mei 28, 2009
Melihat orang lain lebih berhasil dari kita, terkadang membuat diri ini tak terima dan iri hati. Pikiran negatif langsung muncul dalam benak. Akibatnya, pikiran kita tertekan dan selalu dihantui perasaan ingin mengalahkan.
Sebenarnya, perasaan itu tak mutlak salah. Namun bila kita tak dapat mengarahkannya dengan tepat, maka akan membawa dampak negatif bagi diri sendiri. Sayangnya, kebanyakan orang tidak dapat mengendalikan perasaan iri itu untuk memicu diri sendiri menjadi lebih baik. Mereka cenderung membiarkan rasa iri itu berkembang dalam hati dan tumbuh menjadi perbuatan negatif. Sehingga rasa iri itu justru membuat kita tampak bodoh di hadapan orang lain serta mempermalukan diri sendiri.
Contoh sederhananya seperti ini. Di sebuah lingkungan rukun tetangga, tinggallah sepasang sahabat. Panggillah mereka A dan B. Kondisi keluarga A dan B berbeda satu sama lainnya. Keluarga A lebih mampu dibandingkan keluarga B. Di tahun pertma persahabatan mereka baik-baik saja. Namun, memasukki tahun kedua, persahabatan mereka mulai renggang. Pasalnya, si B iri melihat si A yang selalu bisa membeli produk telepon genggam dengan model terbaru. Sementara si B hanya memakai produk yang sudah ketinggalan jaman.
Tak tahan melihat tingkah laku si A, maka si B mulai berpikiran negatif untuk menandingi si A. Namun karena perekonomian keluarga B yang tak mampu, membuatnya menyesali hidup. Tekanan si B baik dari dalam maupun luar makin menambah kekesalan dan iri dalam dirinya. Akhirnya, demi mengalahkan si A, maka si B berani menjual narkotika, dan ia pun harus menginap dalam hotel prodio.
Dari kisah sederhana itu, dapat dilihat bahwa iri hati membuat si B kalah. Pasalnya, ia kehilangan kebebasan dan mempermalukan diri sendiri juga keluarga. Tak hanya itu, ia pun menghilangkan kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai harapannya.
Oleh karena itu, ketika iri hati itu datang, sesungguhnya kekalahan pun perlahan sedang mengintai untuk membunuh kita. Jika kita mengikuti perasaan iri itu terus menerus, maka akibatnya kita menjadi tidak tenang. Untuk itu, sebaiknya kita mengubah perasaan iri menjadi doa bagi mereka yang lebih beruntung. Dengan demikian, kita mampu mensyukuri hidup dan menerima apa pun yang kita miliki.
Kehidupan selalu penuh pilihan. Memilih sikap untuk mensyukuri hidup, maka pribadi kita akan berkembang menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila kita selalu memelihara rasa iri hati, maka hidup ini akan berubah menjadi tak bahagia dan perlahan merugikan diri sendiri.
Posted by: galerihati on: Mei 26, 2009
Saat ini, kata salah masih menjadi momok mengerikan dalam hidup tiap individu. Alasannya mudah, karena kita ingin segala sesuatunya sesuai dengan kehendak pribadi dan jarang ada yang bersedia menanggung kesalahan yang terjadi. Sehingga bila ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita, maka dengan mudahnya kita menyalahkan orang lain.
Lantas apa sih sebenarnya makna kata salah sendiri?
Salah atau kesalahan menurut pengertian secara harafiah yaitu kondisi menyimpang dari keadaan normal yang mengakibatkan kerugian, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama yang merasakannya.
Nah, dari pengertian di atas terlihat bahwa kata salah itu tak terkait sama sekali dengan hubungan pribadi atau keinginan per individu. Kalau demikian, mengapa masih banyak orang yang melihat kesalahan orang lain melalui kacamata personalnya? Bukankah pandangan setiap individu itu berbeda dan bila pun ada kesamaan hanya sekian persen kemiripannya tentang pengertian salah?
Bila kita masih menilai kesalahan menurut kacamata pribadi, maka yang ada kita akan terjerumus dan tak ubahnya dengan ungkapan katak dalam tempurung. Pintar dan mahir secara pribadi saja tanpa tahu perkembangan zaman di luar sana, akibatnya kepintaran itu justru mempermalukan diri sendiri.
Dalam kehidupan nyata kata salah itu sudah menjadi bias. Artinya, kesalahan itu tidak lagi bersifat mutlak selama ada usaha positif untuk memperbaikinya melalui cara yang positif. Berani berbuat salah itu sesungguhnya belajar untuk menjadi benar.
Contoh sederhananya seperti ini. Di sebuah istana, ada seorang koki yang baru lulus dari sekolah masak kerajaan. Kemudian ia ditugaskan untuk membuat hidangan istimewa bagi paduka raja saat pesta ulang tahun putra mahkota. Sehari menjelang perayaan, para koki istana sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk bahan makanan serta peralatan masak. Karena belum berpengalaman, si koki muda itu lupa membeli daging ayam kesukaan raja dan merupakan bahan pokok hidangan utama pesta. Sementara saat itu hari sudah malam dan tak ada lagi pasar yang buka. Karena kesalahannya itu, terpaksa ia harus membuka buku resep makanan untuk mengganti menu utama. Melalui proses belajar semalaman, akhirnya saat pesta berlangsung, koki muda itu dapat menyajikan masakan terlezat berbahan tempe dan tahu yang disukai raja.
Jadi, ketika kita melakukan kesalahan, langkah pertamanya ialah sadari bahwa itu salah dan tidak sesuai dengan kenyataan, kemudian segeralah belajar dan berpikir mencari solusi postif untuk memperbaiki kesalahan itu. Bila kita mengerti bahwa itu salah, lalu kita acuh dan tak berusaha untuk memperbaikinya, itu sama artinya kita tidak menghargai proses belajar menjadi benar. Akibat yang akan terjadi ialah kita akan terus mengalami kesalahan dan sama sekali tidak berkembang ke arah yang lebih baik. Dengan membuka diri menerima kasalahan maka menjadikan pribadi kita semakin cerdas melakukan sesuatu yang benar.
Posted by: galerihati on: Mei 26, 2009
Wajar dan sangat alami bila setiap orang merasakan takut dalam hidupnya. Namun terkadang ketakutan yang kita rasakan itu tak selalu benar dan sesuai dengan kondisi nyata. Hal itu justru membuat kita kehilangan sesuatu yang menjadi tujuan dalam hidup ini.
Pepatah yang menyatakan bahwa takut karena salah dan berani karena benar, seharusnya kita terapkan dalam hidup sehari-hari. Pasalnya, pepatah itu menjadikan kita selalu berpikiran positif serta berani menjalani hidup tanpa keraguan.
Ketakutan itu muncul karena kita tidak percaya akan kemampuan yang sudah Tuhan berikan. Kita selalu berdiri di balik bayang-bayang masa lalu serta membandingkan kemampuan sendiri dengan orang lain di sekeliling kita. Hal itu lantas membuat kita hilang arah dan tidak fokus pada pribadi yang kita miliki. Bila hal itu terjadi berulang kali, maka tanpa kita sadari, kita telah berubah menjadi mesin fotokopi berjalan. Kita tak lagi berhasrat hidup dan terus saja mencotoh dan menduplikat apapun yang ada. Keadaan itu sungguh melelahkan dan menghabiskan banyak waktu percuma tanpa hasil.
Contoh sederhananya seperti ini, di ceritakan ada sepasang kakak beradik Iyan dan Feri. Iyan sang kakak adalah seorang atlet Taekwondo Nasional. Sosoknya selalu menjadi idola setiap perempuan yang mengenalnya. Fisik kekar serta wajah tampan ditambah oleh kepandaiannya dalam seni beladiri, membuat namanya kian pamor di antara para gadis. Sementara, si Feri sang adik, tumbuh menjadi pribadi melankolis yang gemar menyendiri dan membaca buku. Dua pribadi yang berbeda jelas tampak dari keduanya. Suatu kali, si adik mencintai seorang gadis yang cukup canti di sekolahnya. Kebetulan gadis itu sekelas dengan si kakak yang maco tadi. Karena takut si gadis jatuh cinta dengan si kakak, maka si adik yang semula pemurung dan gemar membaca, kini mengubah dirinya menjadi seorang periang dan ikutan berlatih beladiri.
Sebulan berlatih, si adik tadi bukan mendapatkan tubuh bagus bak si kakak, melainkan menderita penyakit kuning yang mengakibatkan dia terpaksa harus dirawat inap.
Dari gambaran di atas, kita dapat lihat bahwa ketakutan yang ada sesungguhnya membuat kita rugi dan merugi sangat besar. Semua kemampuan serta ciri khas yang seharusnya dapat dengan bebas kita kembangkan menjadi hambar dan sia-sia, kesempatan baik yang seharusnya dapat mengubah hidup kita perlahan menjauh. Bahkan impian kita tak jarang hilang karena ketakutan kita yang tak berarti. Oleh karenanya, tak ada gunanya merasa takut dalam menjalani aktivitas hidup.
Kuncinya adalah berpasrah pada Tuhan dan berusaha hingga batas maksimal dari segala kemampuan yang kita miliki. Berani berjalan sendiri dan melakukan segala sesuatu dengan prinsip serta kepercayaan diri pribadi. Buang semua sikap membandingkan dengan orang lain, karena itu dapat merendahkan diri sendiri. Buang rasa menginginkan sesuatu yang dimiliki oleh orang lain, karena itu dapat menghilangkan kepercayaan diri. Selain itu, kita pun perlu selalu belajar dari setiap perubahan dalam lingkungan. Hal itu agar proses perkembangan diri kita tak terhenti pada satu titik saja, melainkan tanpa batas.
Posted by: galerihati on: Mei 25, 2009
Siang itu mentari tersenyum simpul, cahayanya teduh tak terlalu terik seperti hari biasa. Dari kamar di sudut kuil, seorang biksu muda yang cukup tampan keluar menuju ke arah kuil utama. Rupanya ia ingin beribadah pagi.
Sejam kemudian, usai berdoa dan bersembah sujud, biksu itu kembali menuju kamarnya. Kemudian ia merapikan semua pakaian serta barang lain. Hal itu dilakukan bukan untuk pindah kamar, melainkan untuk turun gunung menyebarkan ajaran kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak lahir, ia sudah belajar dan berlatih bersama sang guru. Dan kini sudah waktunya ia harus turun gunung untuk mempraktekkan segala pengetahuan yang sudah diperoleh pada semua manusia di dunia.
Setibanya di aula utama, biksu muda itu segera berlulut pada sang guru sebagai tradisi dan tata karma. Sang guru lalu berpesan agar si murid berhati-hati selama membina diri di kota. Pasalnya banyak hal yang akan membuatnya melupakan semua ajaran kebaikan.
Tepat tengah hari, saat terik mentari menyengat kulit, bikhu muda memulai perjalanannya. Bermodalkan sepatu kain dan tas kain kuning, ia berjalan perlahan melintasi sungai dan pegunungan. Batu terjal serta pepohonan di hutan rimba tak membuatnya berhenti. Tekadnya sudah bulat untuk berbagi ajaran kebaikan dengan warga kota. Pikirannya diarahkan seolah dia sudah berada di kota.
Selama tiga hari berjalan, biksu muda itu belum juga menemukan arah menuju kota. Tanpa putus asa, ia terus melanjutkan perjalanan. Hari kelima pun sudah berlalu, si biksu mulai kelelahan, semangat melihat kota yang awalnya menggebu, perlahan mulai surut tergerus waktu dan tantangan yang bertubi. Tekadnya pun mulai pudah tertiup angin dan hujan badai yang ia hadapi. Bekal makanan dan minuman yang tak bersisa membuatnya makin tak bersemangat melanjutkan perjalanan.
Di saat kondisi batin meronta ingin kembali ke wihara, ia teringat nasehat guru yang penuh kebijaksanaan. Ia tak ingin menyerah. Ia harus dapat tiba di kota untuk menyebarkan ajaran kebaikan demi menolong sesama yang belum mengerti akan ajaran kebenaran. Tak beberapa lama, ia kembali semangat serta bertekad untuk menyelesaikan perjalanan.
Setengah jam berlalu, ia tiba di depan hutan rimba yang rindang. Jutaan pohon besar berdiri kokoh di atas ribuan hektar tanah subur. Melihatnya, biksu muda itu gemetar, kakinya tak sanggup lagi berdiri tegak, namun dengan penuh keberanian, ia melangkah perlahan memasuki hutan. Hingga tanpa disadarinya, ia sudah berada di tengah hutan. Tanpa alat penerang, hutan itu tak ubahnya seperti ruang gelap tak berpenghuni.
Genap lima hari perjalanan, akhirnya biksu tiba di kota. Dengan uang seadanya, ia menempati sebuah rumah kontrakan. Tak hanya lubang tikus dimana-mana, atap rumahnya pun berlubang. Jendela yang lapuk menjadikan rumah itu sangat baik untuk sarang serangga dan nyamuk untuk membina diri.
Malam pertama menginap pun tiba, biksu muda yang lelah, segera berbaring di kasur bambu. Tali kasut celananya pun dibuka lalu diletakan sembarangan di sisi dinding yang berlubang. Tanpa disengaja, lubang itu biasa digunakan tikus untuk keluar dan masuk. Mungkin karena dianggap sebagai pengganggu atau tirai yang tidak penting, si tikus pun menggigiti ikat pinggang kain itu hingga sobek.
Keesokan harinya, melihat tali kasut celana yang rusak, biksu muda tak langsung marah. Dengan sabar, ia mengunjungi penjahit di samping rumah untuk memperbaiki tali kasutnya. Kejadian yang sama pun terulang kembali hingga beberapa hari. Melihat kejadian itu, si penjahit menyuruh biksu muda untuk memelihara seekor kucing. Biksu muda pun menuruti saran penjahit. Lalu ia segera memelihara seekor kucing di rumahnya.
Sejak hewan berbulu itu ada di rumahnya, gerombolan tikus nakal tak lagi mengganggu.
Selesainya masalah tikus bukan berarti selesai semua masalah. Tiap malam yang biasa terdengar suara tikus menggigiti tali kasut, kini berganti suara tangisan kucing yang kelaparan. Karena tak tega melihat kucingnya lapar, maka si biksu mencarikan sumbangan susu setiap hari. Beberapa hari kemudian, seorang nenek mengingatkannya untuk memelihara seekor sapi. Hal itu agar mempermudahnya mendapatkan susu bagi kucingnya. Dengan uang tabungan, ia membeli sepasang sapi. Lalu sapi itu dipeliharanya di samping rumah yang masih luas. Tanpa diingatkan, biksu sudah menanam rumput untuk pangan sapi.
Dengan adanya sepasang sapi itu, membuat biksu muda makin terbelenggu dalam kehidupan duniawi. Benar saja, setelah tiga bulan menjalani rutinitasnya, tetangga menyarankan ia untuk segera menikah. Mendengar hal itu, biksu muda tak langsung setuju. Ia perlu berpikir cukup lama sebelum akhirnya menerima seorang gadis sebagai istrinya. Tepat bulan 3 tanggal 23, pernikahan pun terjadi. Rumah biksu pun ramai dengan warga sedesa.
Tak terasa, tiga belas tahun berlalu. Biksu muda itu sudah menyatu dengan kehidupan duniawi. Sapi yang semula hanya sepasang, kini sudah puluhan bahkan ratusan ekor. Rumah kontrakannya pun kini terbesar di seluruh desa. Peristiwa itu membuat tujuannya untuk menyebarkan ajaran kebaikan terlupakan. Gemerlap duniawi sudah menutup semua keinginannya untuk mengajarkan ajaran kebenaran kepada sesama.
Sampailah suatu hari, sang guru turun gunung untuk mengunjunginya. Beliau terheran-heran melihat kondisi si murid yang sudah banyak berubah. Keluguannya yang dulu masih nyata, kini sudah menjadi sosok berpengetahuan.
Setelah mendengar petunjuk sang guru, ia tersadar dan mulai meneruskan misi untuk mengajarkan ajaran kebajikan kepada sesama. Ia pun tersadar bahwa kebaikan bukan untuk diangankan saja, melainkan dipraktekkan dalam rutinitas. Sebab angan-angan akan mudah hilang dibandingkan dengan karya nyata.
Posted by: galerihati on: Mei 20, 2009
Frase bekerja sama dengan sama bekerja, sekilas tak ada beda yang mencolok. Namun, ada makna yang mendalam tersirat dari balik jendelanya. Bagaikan tangan, maka menunjukan makna yang bertolak belakang.
Sederhananya seperti ini. Bekerja sama itu bagaikan semut yang sedang mengerubungi kaki kita. Semuanya sama-sama menggigit kulit kaki hingga gatal dan memerah. Artinya mereka menggigit satu objek secara bersama-sama untuk mendapatkan kepuasan bersama.
Lantas, bila sama bekerja itu, ibaratkan seekor lalat yang mencari makanannya sendiri. Mereka memang bekerja, namun hanya sama aktivitasnya tanpa saling membantu antara satu lalat dengan lalat lainnya. Tentu apa yang diperolehnya pun di rasakan oleh masing-masing tanpa ada hubungannya dengan teman lainnya.
Dari gambaran itu, kita akan memilih cara kerja si semut. Pasalnya, hal yang dilakukan semut akan mempermudah dan meringankan pekerjaan yang ada. Disamping menghemat tenaga fisik dan pikiran. Hasil yang kita peroleh pun lebih maksimal, karena ada banyak ide baik yang tergabung untuk menyelesaikannya.
Anehnya, kebanyakan orang saat ini, justru cenderung memilih cara kerja seperti lalat. Mereka hanya pentingkan masuk kantor tak terlambat, kemudian asyik melakukan aktivitas sendiri tanpa peduli pada teman-teman lainnya. Bahkan parahnya, saat rapat untuk menyelesaikan kepentingan bersama, orang macam ini justru sibuk membahas diri sendiri dan malah mencari peluang demi keuntungannya sendiri.
Bila bekerja sama, maka ada unsur saling bergotong royong dalam prosesnya. Kemudian setelah mendapatkan hasil, maka mereka menikmatinya bersama-sama. Lain halnya dengan sama bekerja. Pasalnya bila hanya sama bekerja, maka tak ada unsur kerja sama di dalamnya. Kondisi itu hanya menunjukkan bahwa pekerjaannya yang sama, sedangkan dalam proses dan hasilnya, si pelaku menyelesaikannya sendiri.
Kini pilihan ada pada diri kita masing-masing. Mau menjadi semut yang bekerja sama, ataukan seperti lalat yang hanya sama bekerja.
Posted by: galerihati on: Mei 14, 2009
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, tentu tak selamanya bertemu serta berhadapan dengan hal-hal yang baik. Terkadang situasi tak menyenangkan bahkan cenderung buruk pun datang menghiasi keseharian kita. Saat itulah hidup kita menjadi lebih bervariasi serta penuh warna.
Selain memvariasi hidup kita, hal itu pun melatih kita untuk tahan terhadap berbagai situasi. Bila keadaan mujur yang menyapa, kita dapat tersenyum serta gembira. Tapi, bila situasi buruk yang datang, maka reaksi kita yang biasa langsung melawan dan tak mudah menerimanya kini dapat dilatih untuk menahan emosi, sehingga kita terhindar dari perbuatan yang melupakan kaidah sopan santun dan etika moral yang ada.
Untuk melatihnya tentu dibutuhkan waktu bagi kita untuk menelaahnya. Tak hanya itu, kita pun perlu keberanian membuka diri untuk menyadarinya. Bila telah mengerti, maka yang akan kita temukan sesungguhnya pikiran itu sendiri yang membuat keadaan berubah menjadi positif atau negatif. Selebihnya, seperti keluarga, lingkungan sekitar, serta benda dan binatang, merupakan pemicu singkat yang merangsang pola pemikiran kita.
Dengan menyadari bahwa pikiran kita yang mengarahkan tujuan hidup ini, maka akan lebih mudah bagi kita untuk mengarahkan serta mengawasinya. Contoh mudahnya seperti ini, bila kita sakit gigi parah sampai terasa hingga ke telinga. Itu sudah pasti sakitnya bukan main. Bila hal itu kita tanggapi dengan emosi, maka yang ada kita pun terlihat negatif dan mengebalkan. Namun bila kita langsung minum obat, atau ke dokter, atau pergi berjalan-jalan santai sendiri untuk menyepi, maka aktifitas positif itu justru akan membuat orang di sekitar kita kagum pada pribadi kita yang matang.
Untuk itu, dalam situasi terburuk pun, pikiran itu penentu segalanya. Dan hebatnya, kita adalah nahkoda dan pemilik tunggal dari pikiran itu. Belajar berpikiran positif, akan membuat kita makin berkepribadian positif. Tetaplah berpikiran positif di keseharian kita.
Posted by: galerihati on: Mei 14, 2009
Alangkah mudahnya berbicara dan mengucapkan kalimat setia sampai ujung nafas. Tapi bila dihadapkan pada kebutuhan ekonomi yang mendesak serta keinginan yang berlebih untuk mendapatkan hidup sejahtera, maka yang ada orang akan berlomba-lomba menggadaikan kesetiaan demi harta yang tak seberapa.
Keadaan itu tak dapat disalahkan sepenuhnya. Pasalnya kita masih sama-sama membutuhkan harta demi mempertahankan kelangsungan hidup dan kebahagiaan keluarga. Tapi yang terkadang menjadi ketidakpuasannya ketika proses ketidaksetiaan dilakukan, maka yang ada mereka mempengaruhi lingkungan sekitar dan membawa kerugian bagi organisasi atau keluarga.
Apa yang dikatakan setia itu sesungguhnya luas dan mendalam. Tak hanya berkaitan dengan hubungan aku ada ketika kamu butuh, atau aku ada sebagai sandaran hidupmu. Namun, terkadang sampai pada pengorbanan terhadap sesuatu yang kita setiai. Sebagai contohnya, keluarga dan perusahaan.
Disisi lain, kesetiaan tak selalu berpatokan bahwa anak buah setia kepada atasan, atau istri setia pada suaminya. Dikatakan setia bila dua belah pihak pun saling berkontribusi dan mengerti satu sama lain. Bila keduanya tak dapat saling mengerti, maka jangan salahkan bila kesetiaan tak mungkin terjadi di dunia. Misalkan pada situasi di perusahaan. Bila atasan memperhatikan kesejahteraan karyawannya, maka karyawan itu akan berpikir dua bahkan seribu kali untuk mengkhianati perusahaannya. Begitu pula dengan hubungan suami istri. Bila sang istri atau suami mampu bertindak sebagai mana layaknya saling mengasihi dan menghormati, maka tak mungkin terjadi kasus selingkuh dalam perjalanan rumah tangganya.
Pada dasarnya manusia itu tercipta dengan setia sebagai pondasi hidupnya, namun situasi dan keadaan lingkungan serta persaingan dan tekanan hidup lah yang membuat mereka terus memilih mencari yang terbaik. Jalan satu-satunya untuk menumbuhkan serta mempertahankan kesetiaan adalah dengan perhatian dan penghormatan pada semua orang. Dengan demikian maka dunia penuh dengan mereka yang setia.