RSS

Perubahan

by: Didi Endut

Ketika rakyat lelah

Saat itu pula rakyat teriak

Bukan mencari perhatian

Bukan pula mencari popularitas

Tapi

Karena rakyat lapar

Karena rakyat tersisihkan dalam angkara murka

 

Penindasan bergulir tanpa henti

Tikam hati

Robek semangat persatuan

 

Hai pemimpin bijaksana

Suara kalian betul indah adanya

Tapi

Suara itu takkan kenyangkan perut anak-anak rakyat

 

Hai pemimpin bijaksana

Uang kalian betul banyak bak gunung

Tapi

Uang itu diam kala rakyat tergeletak dalam sakit

 

Bukan janji tuan

Bukan pula gelimang harta

Melainkan tindakan nyata

Perbarui tiap nada sumbang

Kembali pada semangat moralitas

 

Bangsa ini berdiri atas dasar semangat

Hentikan rayap nakal penyebab rusaknya negri

 

Bangsa ini berselimut senyum anak sehat

Buang tikus kotor penyebab penyakit

 

Hari ini semua harus berubah

Hari ini semua harus pulih

Tak ada lagi sedih

Tak ada lagi tangis

 

Diam takkan tuntaskan derita rakyat

Diam bukan hasil pemikiran bijaksana

Mari bersuara penuh keberanian tuntaskan palsu berselimut cinta

 
1 Comment

Posted by pada April 8, 2011 in Puisi

 

Belajar dari Orang Gila

Terkadang kita berpikir bahwa orang gila itu mengerikan atau mereka yang layaknya kita sisihkan dari kehidupan kita. Namun pandangan itu seharusnya tak demikian.

Tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya kita pun sama seperti mereka. Buktinya, ada diantara kita yang mencari uang hingga tak kenal istirahat. Bahkan demi mengejar keuntungan serta uang yang berlimpah sanggup menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Nah, lalu apa bedanya mereka dengan orang gila juga.

Belajar dari orang gila itu perlu sesekali kita lakukan. Lihatlah tingkah orang gila yang berkeliaran di jalan. Hidup mereka begitu lepas tanpa tekanan atau pengharapan yang rumit dalam menjalani hidup. Bukan karena mereka tak lagi berpikir atau kehilangan akal sehat, namun karena bathin mereka sudah tak lagi mampu menerima tekanan sehingga tanpa mereka kehendaki pikiran mereka melepaskan diri dari segala tekanan yang mengakibatkan mereka seolah kehilangan pikiran, padahal sesungguhnya mereka belajar tahu puas dan melihat keadaan penuh dengan kepuasan bathin.

Belajar dari cara orang gila mensyukuri hidup, coba kita bayangkan sejenak dalam diri, orang gila itu, makan seadanya yang ada dihadapannya tanpa banyak berpikir apakah ini enak atau tiak, dan bersih atau kotor. Kadang kita semakin berhasil, maka kita berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas hidup. Mulai dari mengubah cara kita berpakaian, lalu jenis makanan, sampai membatasi pergaulan hanya pada kalangan tertentu saja. Bukankah hal itu justru menambah beban pikiran kita. Bukankah kita justru mengurung diri kita dalam penjara bathin yang berantai baja yang sulit dilepaskan. Bila demikian, maka kita akan sama halnya dengan narapidana yang berbuat kejahatan. Alangkah senangnya kita bebas dan menjalani hidup penuh kebahagiaan.

Bila diamati secara sederhana, kebahagiaan itu mudah kok dicari dan ditemukan dalam dunia ini. Lihatlah orang gila, dia selalu berpikir bahwa setiap orang yang ada dihadapannya itu selalu tersenyum padanya. Sehingga lihatlah ekspresi wajah mereka yang selalu tersenyum bahkan tertawa di depan kita. Ekspresi ini lah yang hendaknya kita contoh dan terapkan dalam kehidupan ini. Itu tak berarti bahwa kita tersenyum terus seperti mereka, namun kita hendaknya menjadi seorang yang mampu memberikan kebahagiaan dimanapun kita berada dan menciptakan senyum kesenangan pada siapaun di sekeliling kita. Dengan begitu, maka kebahagiaan pun akan kita temukan dlam hidup.

Lalu pernahkan melihat orang gila berbicara sendiri? Itu juga perlu kita lakukan dalam kehidupan normal kita. Apa yang dilakukan oleh si orang gila dengan berbicara sendiri itu, sesungguhnya ia berusaha berdiskusi menemukan solusi penting agar dia dapat kembali pada kondisi normalnya. Nah kalau kita melakukannya itu ialah untuk mengevaluasi setiap tindakan yang sudah kita lakukan hari ini. Berbicara didepan cermin pada diri sendiri seperti orang gila, sesungguhnya membuat diri kita tenang. Karena secara psikologi kita membutuhkan teman dalam hidup. Dengan cermin lalu kita berbincang di depannya maka pikiran kita akan menditeksi adanya lawan bicara yang mengajak kita berkomunikasi dua arah. Dengan begitu, bila ada masalah atau kesulitan dalam hidup lalu kita bincangkan di depan cermin, maka kemungkinan menemukan jawaban terbaik pun akan kita dapatkan.

Orang gila sering kali marah bila kita mengolok-oloknya sebagai orang gila, malahan ia berkata sebaliknya bahwa kitalah yang gila dan hanya dia yang waras di dunia ini.

Sesungguhnya, perilaku itu hendaknya menjadi teladan dalam kehidupan kita. Alasannya mudah, yakni kita hendaknya percaya diri serta selalu perpedoman pada prinsip diri sendiri. Dengan prinsip hidup yng benar, maka kita akan berada dalam jalur kebenaran dan tak mudah terhasut atau terombang-ambing dalam menentukan jalan hidup. Dengan begitu, hidup kita akan selalu bahagia tanpa ada campur tangan dari banyak orang yang berusaha mengacaukan hidup kita. Abaikan pandangan hidup orang lain dengan selalu belajar hal positif yang dilakukan oleh orang lain. Tujuannya belajar ya, bukan meniru secara mentah semua kelakukan orang lain. Bila mampu melakukannya maka niscaya hidup kita berjalan sesuai harapan kita untuk mencapai kesuksesan. Biarkan orang berkata apa atau memberikan intervensi dalam kehidupan kita. Yang penting kita berjalan di jalan hidup yang benar dan sesuai dengan kebenaran serta moralitas manusia.

Lalu pelajaran lain yang perlu kita lakukan dalam hidup dari orang gila ialah kita belajar hidup sederhana dengan melihat cara mereka berpakaian. Seringkali, kita yang mengaku normal ini justru tampak seperti orang gila. Lihatlah orang gila, mereka berpakaian seadanya tanpa peduli anggapan orang lain, tapi kita, wah jauh sekali berbeda. Ada yang berpakaian mini sekali sampai pangkal paha atau buah dadanya kelihatan setengah, bahkan ada yang tak memakai pakaian dalam wanita, dan sebagainya. Bahkan cara berdandan kita pun kadang sampai tak karuan. Muka kita dilukis sampai tak berbentuk muka lagi, melainkan bedak atau warna warni seperti badut di tempat hiburan. Bila demikian halnya, apakah kita tak sama dengan orang gila?

Dari uraian di atas hendaknya kita belajar berdiri sesuai dengan prinsip hidup kita. Tanpa terlalu mempedulikan cemooh atau hinaan dari luar. Pentingnya ialah agar kita selalu berada dalam jalur kebenaran dan bertindak baik serta menolong sesama yang membutuhkan. Satukan hati untuk selalu berbuat kebaikan demi perdamaian dan ketenangan dunia.

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 5, 2011 in Sharing

 

Sukses Bukan Aku Tapi Berkat Mereka

Tanpa kita sadari bahwa keberhasilan atau kesuksesan kita sesungguhnya tak sepenuhnya berkat usaha atau upaya kita sendiri. Pasti dibalik keberhasilan yang kita agung-agungkan serta banggakan itu ada mereka yang berjasa mendorong atau menopang kita ke puncak kesuksesan saat ini.

Ada pepatah klasik berkata bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Pepatah klasik ini benar dan seratus persen beralasan kuat. Justru itu, adanya pengalaman tentu ada sebuah kondisi dimana terjadi interaksi yang menyebabkan terciptanya kondisi itu. Sebuah kondisi tercipta tentu melibatkan tak kurangnya beberapa orang yang berinteraksi satu sama lain. Sehingga tak masuk akal bila kita melupakan bahwa kondisi baik atau keberhasilan kita itu berdasarkan dari keberuntungan atau kemampuan kita seorang diri dan tanpa pengaruh dari orang lain di sekitar kita.

Jaman sekarang ini, seringkali kita melupakan mereka yang memberikan kesempatan bagi kita untuk maju mendulang kesuksesan, bahkan saat ini mereka yang berjasa pada kita, justru kita lupakan, lalu merebut jasa mereka dengan mengatakan bahwa pencapaian kita akan keberhasilan itu berkat diri sendiri yang telah berusaha dan bekerja keras. Malahan mereka yang berjasa, kita lupakan dan tak bersedia lagi kita kenal. Sungguh ironis bukan.

Mudahnya seperti ini. Apakah seorang sales marketing yang mampu mencapai angka penjualan tertinggi berkat usahanya sendiri? Jawabnya benar. Tapi tidak sepenuhnya dia. Mari kita rinci dari proses sampai dia sukses.

Seorang sales marketing yang sukses tentu menjual produk. Produk tentu mempunyai kualitas tersendiri bukan. Tak mungkin produk yang buruk mampu disukai orang dan mendapat pelanggan. Produk itu sendiri tentunya ada penciptanya sehingga dapat dikreasikan lalu diolah hingga menjadi sebuah barang. Nah dari sini saja sudah terlihat beberapa orang didalamnya yang mendukung keberhasilan si sales marketing. Siapakah mereka? Ya, pertama tentu si pencipta produk berkualitas itu, lalu selanjutnya ialah mereka yang andil dalam memproses mulai dari bahan baku hingga jadi. Kemudian, mereka yang membungkusnya dalam kotak atau wadah secara rapi pun memegang peranan penting, dan si pengirim barang yang mengantarkan dari pabrik….oke stop. Prosesnya sampai disini saja. Yang jelas begitu banyak rekan kerja yang terlibat. Belum lagi atasan yang mempromosikan kita.

Nah dari proses di atas, apakah kita masih pantas menyombongkan diri untuk mengakui keberhasilan itu adalah berkat kemampuan diri kita seorang diri? Bukankah bila demikian halnya kita sama dengan manusia yang tidak tahu malu dan tak pantas dihormati?

Kesalahkaprahan ini hendaknya dicukupkan sampai disini. Hentikan kearoganan serta egois kita yang selalu memandang sebelah mata pada apa yang kita lakukan serta apa yang kita alami saat ini.

Seharusnya kita senantiasa berlaku bijaksana serta rendah hati dalam menerima tiap kondisi dalam hidup. Egois boleh, sombong boleh, tapi perlu kita tahu bahwa sebagian besar dari perjalanan hidup kita ini bukan karena kita, melainkan dari banyak orang di sekitar kita. Bila menyadari hal ini, maka kita dapat mengerti bahwa kita ini sebagian kecil dari ciptaan Tuhan yang mudah punah dan rapuh.

Pepatah klasik pun pernah berujar bahwa padi kian berisi kian merunduk. Artinya bukan hanya orang yang memiliki kepandaian saja yang makin rendah hati, namun hakikatnya ialah mereka yang mencapai keberhasilan makin tinggi, hendaknya makin tahu berbuat rendah hati, sebab makin suksesnya seseorang, tentunya makin banyak melibatkan banyak orang, sehingga tak ada alasan bagi orang untuk mengakui tiap keberhasilannya karena miliknya sendiri dan berkat kemampuannya sendiri.

Alangkah menggelikan bila seorang bos atau pimpinan perusahaan berkata bahwa keberhasilan perusahaannya karena upayanya mengkoordinasi pegawai, atau karena dia sekolah di luar negri. Padahal dapat dibayangkan andai saja tak ada satu orang pun yang memberikannya bekerja di perusahaan itu, atau tak ada seorang pun yang membeli produk perusahaannya, apakah pimpinan itu masih dapat berkata seperti itu?

Untuk itu, hendaknya kita senantiasa bercermin pada tiap keadaan yang terjadi di sekitar kita. Satu hal yang perlu kita pahami bahwa adanya kita bukan sepenuhnya kita seorang, melainkan adanya dukungan serta kerjasama yang baik antara satu orang dengan orang lainnya.

Marilah kita mulai menjalin hubungan baik dengan semua orang. Hilangkan jabatan serta ekonomi dalam tiap hubungan antar sesama. Tujuannya agar kita mampu menjalin keharmonisan dengan sesama dalam setiap kesempatan di dunia ini. Semangat bekerja sama.

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 5, 2011 in Sharing

 

Belajar dari Sang Mantan Ratu

Pagi ini, penulis membaca sebuah artikel di Liputan6.com. Kisah ini cukup menarik untuk kita analisa secara sederhana dari pandangan manusia awam. Namun sebelum kita menganalisanya, mari kita membaca cerita saduran dari Liputan6.com ini terlebih dahulu:

”Liputan6.com, Sattur: Hidup dalam kemiskinan. Itulah yang kini dijalani Appamma Kajjallappa, istri ketiga Raja Venkateswara Ettappa, penguasa di Virudhunagar, India. Bersama anaknya, dia rela hidup di sebuah gubuk dan berjuang keras untuk mendapatkan sesuap nasi.

Lho, memang ke mana harta benda peninggalan suaminya “Sudah saya sumbangkan ke rakyat,” kata Appama, baru-baru ini. Bahkan, istana peninggalan juga sudah berubah menjadi sebuah sekolah demi memenuhi permintaan rakyat.

“Anggota keluarga kami sangat murah hati. Kami menyumbangkan segalanya demi kejehateraan desa. Itulah yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin,” tambah Appama.

Appama menambahkan, “Mungkin dulu saya adalah seorang Ratu, tapi kini saya bukan siapa-siapa lagi. Kami sangat miskin.”

Beberapa penduduk desa merasa iba dengan nasib Ratu mereka. Sebenarnya, Appamma bekerja di kuil saat ada perayaan ataupun persembahan. Namun, setiap kali penduduk ingin memberikan sesuatu, Appama selalu menolak. Ia beranggapan melayani kuil suci merupakan suatu kehormatan bagi dirinya.(Bernama/DES/ULF)”

Tentu bagi sebagian orang, yakni pembaca dan penulis, kehidupan mewah serta bergelimang harta adalah tujuan yang seolah-olah wajib diperoleh dan dinikmati di masa tua. Jarang sekali kita ingin merasakan hidup serba kekurangan bahkan ”miskin”. Sehingga segala daya upaya kita lakukan hingga terkadang melukai perasaan orang lain bahkan keluarga sendiri.

Awalnya, ketika penulis baru saja membaca cerita di atas, penulis beranggapan bahwa perempuan mantan Ratu India ini begitu bodoh, dimana ia menyumbangkan semua hartanya demi orang lain disekitarnya, padahal, belum tentu masyarakat di sekitarnya bersedia untuk menjamin kehidupan mereka.

Apalagi di jaman sekarang, kehidupan begitu tak mudah, persaingan serta kompetisi di dunia kerja dan bisnis kian ketat, tentu bila kita mempunyai harta tak mungkin kita bagikan atau serahkan semua pada orang lain yang bukan kerabat atau saudara kita.

Namun setelah diamati lebih dalam, terperinci dan dilihat dari sisi lain, maka penulis justru kagum pada pengorbanan sang Ratu untuk masyarakat di sekitarnya. Disini banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik dan kita hayati maknanya.

Pelajaran pertama yang dapat kita petik manfaatnya ialah pelajaran cara berkorban demi orang lain. Dari kalimat, Kami menyumbangkan segalanya demi kesejateraan desa.” terlihat jelas bahwa harta bukanlah hal utama dalam kehidupan sang Ratu. Melainkan kesejahteraan banyak oranglah yang menjadi prioritas dalam kehidupannya. Tuhan memberikan segalanya pada kita dengan kapasitas yang kita miliki. Namun ketika orang banyak membutuhkannya, terkadang kita justru lupa untuk memanfaatkan kapasitas karunia Tuhan ini untuk membantu sesama yang kekurangan. Lain halnya dengan sang Ratu. Justru ketika masyarakat membutuhkannya, ia rela membiarkan dirinya menderita demi kebahagiaan masyarakatnya.

Mungkin sulit bagi kita untuk bertindak seperti sang Ratu. Namun kita dapat belajar semangat sang Ratu untuk menyisihkan sedikit harta kita bagi mereka yang membutuhkan. Contoh mudahnya seperti ini, saat ini terjadi bencana di berbagai kawasan dunia. Indonesia di merapi, mentawai, serta wasior. Nah, saatnya kita berlatih untuk mengorbankan sedikit harta kita untuk mereka. Tentu bukan makanan saja yang kita berikan. Tapi berikan pula sebagian dari sandang berupa pakaian atau selimut untuk mereka gunakan. Justru bukan sebaliknya, dimana kita malah berdebat saat membeli pakaian baru menjelang hari raya atau mengganti barang dirumah yang kusam.

Lalu pelajaran yang kedua yang dapat kita pelajari ialah kerendahan hati sang Ratu. Kita lihat paragraf ini, Beberapa penduduk desa merasa iba dengan nasib Ratu mereka. Sebenarnya, Appamma bekerja di kuil saat ada perayaan ataupun persembahan. Namun, setiap kali penduduk ingin memberikan sesuatu, Appama selalu menolak. Ia beranggapan melayani kuil suci merupakan suatu kehormatan bagi dirinya.

Pada paragraf ini, bukan lantaran kebodohan sang Ratu yang menolak pemberian dari orang, atau kegengsian mereka untuk menerima bantuan dari orang lain, tapi inilah yang dinamakan kerendahan hati serta ketulusan dalam melakukan sesuatu.

Terkadang, termasuk penulis, beranggapan bahwa pekerjaan atau perbuatan yang kita lakukan di dunia ini, semuanya haruslah mendapatkan imbalan. Bahkan ketika kita tak lagi sanggup bekerja serta memohon pada orang, kita lalu berdoa dan memohon pada Tuhan. Memang sih, berdoa pada Tuhan untuk memohon sesuatu terkadang berhasil, namun tak semua hal perlu kita mohonkan pada Tuhan untuk diberikan pada kita.

Sang Ratu, bekerja sebagai pembersi kuil, sepertinya terlihat menyedihkan serta tergolong sebagai pekerjaan hina. Namun, kita lihat, bahwa ditengah keterbatasan yang ia miliki, ia mampu meluangkan waktu hidupnya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak berpenghasilan, ia justru meluangkan waktu mengerjakan sesuatu yang terhormat di mata Tuhan. Walau kemiskinan dihadapinya setiap saat, sang Ratu rela melakukan sesuatu yang lebih bagi Tuhan dan Dewanya. Ini mengajarkan bahwa bukan uang atau materi saja yang dapat diperoleh di dunia ini. Namun yang terutama ialah kepuasan serta rasa bersyukur ketika kita mampu mengerjakan sesuatu yang menyenangkan serta menentramkan hati ini.

Kerendahan hati saat membersihkan kuil, tanpa dibayar, perlu kita lihat dan hayati. Dan ketika kita mampu menghayati, maka perlahan kita pun tumbuh menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Dengan pengertian bahwa apa yang kita lakukan saat ini, bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan keikhlasan dalam hidup ini demi sesuatu yang kita sebut sebagai kewajiban dan kehormatan di mata Tuhan.

Kemudian bila kita mampu menghayati apa yang dilakukan Ratu india, maka istilah ”Uang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang.” perlahan mulai luntur dan kita menjadi pribadi yang penuh kepuasan serta pribadi yang mampu menghargai setiap kondisi dalam hidup ini.

Mulai dari diri kita untuk belajar, maka pengetahuan pun semakin bertambah, dan budi pekerti semakin meningkat.

 

Sumber cerita: http://berita.liputan6.com/luarnegeri/201011/306441/Mantan.Ratu.India.Hidup.dalam.Kemiskinan

 
Leave a comment

Posted by pada November 15, 2010 in Umum

 

Belajar dari Tikus

Siapa yang tak kenal tikus? Ya, hewan kecil berbulu abu-abu atau hitam ini tergolong hewan mamalia. Tikus mempunyai nama latih Rattus bowersii. Mereka masuk ke dalam Ordo Rodentia atau hewan pengerat.

Bagi sebagian warga Indonesia maupun seluruh dunia, pasti beranggapan bahwa tikus itu sebagai hewan kecil yang menyebalkan. Ya, walaupun sebagian warga begitu menyayangi mereka hingga merawatnya bak anak sendiri.

Alasan tikus menjadi hewan menyebalkan di dunia bukan karena bentuk tubuh atau tempat hidupnya yang kotor, melainkan karena tingkah lakunya yang tidak terbuka dan lebih gemar mengambil kesempatan dibelakang orang tanpa tanggung jawab atas hasil tindakannya. Tak jarang tikus pun tidak menghargai jerih payah manusia, artinya tanpa peduli sekitar, tikus merusak serta mengacaukan kehidupan manusia sebagai hama tanaman. Sehingga banyak orang menjadi rugi dan kehilangan mata pencarian. Begitulah tingkah laku tikus yang menyebalkan.

Bila dilihat secara pembinaan kepribadian, hewan kecil hitam itu, sesungguhnya dapat menjadi pelajaran penting dalam pembinaan karakter tiap orang. Pasalnya, si kecil itu banyak memberikan inspirasi positif yang dapat kita petik manfaatnya.

Salah satunya ialah pelatihan waspada. Tanpa kita sadari, tikus, menjadi guru besar bagi pelatihan insting waspada kita. Bayangkan saja, tanpa adanya tikus di dalam rumah atau kantor kita, maka insting waspada kita menjadi rusak, artinya kita akan sembarangan meletakkan makanan atau minuman bahkan benda-benda kecil. Hal itu perlahan membuat kita menjadi pribadi sembarangan dan meremehkan barang elektronik maupun makanan. Bukankah demikian menjadikan kita menjadi makin tak teratur dan berantakan?

Keberadaan tikus pun secara perlahan, melatih kita untuk mawas diri. Pasalnya, sebagai manusia kita sering lupa cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Kita sering kali beranggapan bahwa ketika tangan kita mengambil makanan ringan, takkan mengotori apapun yang kita sentuh, padahal hal itu justru penyebab utama kerusakan fatal dalam hidup. nah, dengan teringat tikus maka mau tak mau kita akan cuci tangan sebelum makan karena takut kencing tikus atau sesudah makan karena takut tikus merusak barang yang kita sentuh meninggalkan aroma sedap bagi si tikus.

Sifat baik tikus lainnya yang perlu kita pelajari bersama ialah bahwa tikus itu tergolong hewan pengerat terpintar di dunia. Kemampuan nalar serta analisa ruangnya luar biasa. Dalam kondisi gelap, tikus mampu bertahan hidup serta tak kesulitan dalam menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan diri. Tikus pun tak pernah putus asa untuk mencari jalan baru sebagai jalan keluar saat ia terjebak dalam situasi bahaya. Tikus tergolong hewan mamalia yang gemar makan apa saja dan tidak memilih makanan yang ada dihadapannya, semua yang ada dimeja makan pastilah habis dimakannya. Tak seperti kita manusia, mau makan saja mesti jenis makanan inilah, itulah, pakai bumbu inilah, ramuan itulah, yang sungguh hal itu membingungkan perut serta membuat kita bingung untuk makan.

Usai melihat sifat positif tikus, hendaknya kita dapat intropeksi kembali pada diri kita. Terpenting ialah kita berupaya belajar dan tak patah arang ketika kita mendapati jalan buntu dalam hidup.

Puas melihat serta belajar dari sifat baik si tikus. Sekarang bagaimana dengan sifat negatifnya? Dari segi negatif, tikus pun menempati urutan pertama dalam daftar kejahatan binatang pengerat. Karena kecerdasan serta kepintarannya tinggi, maka tikus dapat menghalal segara cermat cara mendapatkan keinginannya. Walau akan banyak orang disekitarnya yang dirugikan akibat sepak terjangnya. Tikus itu tergolong binatang yang tak sopan dan pencuri ulung. Lihat saja, setiap aksi tikus selalu dilakukan saat tak ada orang dan pada saat suasana gelap. Semuanya menjadi tambah menyebalkan ketika benda kesayangan kita rusak bahkan hancur.

Dalam hidup sehari-hari, kita tak jarang bertemu dengan tipe orang yang memiliki sifat yang serupa dengan sifat si kecil itu. Kelihatannya pendiam, tapi sekalinya mereka bertindak, maka banyak dampak buruk yang dirasakan teman disekitarnya. Paling menyakitkan lagi ialah ketika apa yang mereka lakukan itu terjadi saat kita atau lingkungan lepas pengawasan terhadap dia. Sehingga kerugian makain terasa banyak dan menimbulkan penyesalan dalam lingkungan sekitarnya.

Pribadi tikus ini kerap kali menyesatkan orang lain disekitarnya. Petunjuk yang semestinya benar dapat diputar balikkannya hingga kesalahpahaman terjadi dan peperangan terjadi. Gosip dan perbincangan yang bersifat memprovokasi pun menjadi makanan nikmat bagi pribadi tikus. Mereka gemar menyebarkan isu hingga menjatuhkan teman dan kerabatnya. Mereka hidup dalam kenikmatan diatas penderitaan sesama serta tak rela melihat kita tenang dan hidup damai.

Untuk itu, bukan kewajiban kita menghukumnya, melainkan kita wajib menambah kewaspadaan saat kita bertemu dengan tipe orang seperti ini. Kalau perlu, kita jauhi serta bersikap seadanya saja sesuai keperluan kita dengan dia. Bila kita ikuti ucapan serta tingkah lakunya, maka yang ada kita sendiri yang terjebak dalam ketidakpastian serta terjerumus dalam kesalahan yang sudah dipersiapkannya untuk menjebak kita.

Bukan berarti pula kita menjauhi mereka yang bersifat seperti si tikus, hanya saja kita sendiri yang wajib berhati-hati agar kita tak terjebak dalam pola pemikiran mereka. Kita yang harus menjaga hati, agar kita tak terseret untuk mengikuti tingkah laku yang mengubah kita sama seperti tikus yang berkelakukan negatif.

Sebagai manusia berbudi, kita pun terkadang melakukan hal yang serupa dengan tikus. Nah disinilah intropeksi diri diperlukan agar kita tidak melakukan hal kurang terpuji seperti si tikus. Kita pun perlu menyadari bahwa hidup ini bukan sepenuhnya milik kita seorang, melainkan milik bersama antar sesama makhluk hidup di dunia. Dengan demikian, kita dapat saling membantu dan tidak mengambil keuntungan semaunya sehingga orang lain menderita.

Mari kita belajar serta mengarahkan hidup kita ke jalan hidup yang terbuka, jujur dan dapat dipercaya. Hindari perbuatan buruk dan selalu waspada akan virus perbuatan tak terpuji seperti kelakukan si tikus.

 
Leave a comment

Posted by pada November 10, 2010 in Sharing

 

Mesin Hati Pelestari Lingkungan

Mesin Hati Pelestari Lingkungan

 
1 Comment

Posted by pada November 8, 2010 in Umum

 

Waktu Saksi Sejarah

Oleh: Didi Endut

 

Detik tak lagi berdetik

Menit pun lari mengubah arah

 

Senyuman simpul anak perawan

Tak lagi warnai senja hari ini

Sirna semua tertelan awan panas

 

Detik tak lagi berdetik

Menit pun seolah enggan bergerak pasrah

 

Senandung lagu nan bahagia

Ubah merdu jadi senandung parau penyanyi tua

 

Lirik diatas lirik

Bernyanyi lagu pesta lalu diam tak bergeming

Temani linangan air mata

Merana sembilu di balik wajah tepian pulau

 

Jam terasa tanpa menit

Menit pun seolah tanpa detik

 

Nyeri derita kaum terlantar

Menghujam jasad tak bertuan sendiri

Nyawa seolah lepas sendiri

Takut pada suara gemuruh alam

 

Bisu

Hanya pelipur lara

 

Diam

Tanpa nada atau syair

Menyanyikan suara rintihan sendu

 

Jam terasa tanpa menit

Menit pun seolah tanpa detik

 

Kala detik diam tanpa suara

Tapaki derita tanpa berdaya

Hanya menangis di sudut jam dinding

 
Leave a comment

Posted by pada November 2, 2010 in Puisi

 

Lirih Tangis Mentawai Merapi

Oleh: Didi Endut

 

Belum lagi jemari ini membujur

Datang lagi tangisan arah serambi sebelah

Tangisan pilu bernoda merah

Berbalut perih tak bergeming

Lalu merintih tatap atas cakrawala

 

Debu

Pasir

Hingga aroma laut

Seolah lekat dalam busana tanpa warna

Tak ingin lepas pisah dari temerang lilin kecil

 

Getir tak lagi terasa

Nista pun seolah berbaur dalam jutaan lara sepi

 

Peluh tak lagi terasa

Hanya kerutan dahi seolah teriak

Meronta berontak tanpa suara

Menelan ribuan tangisan balita tanpa dosa

 

Daya tubuh seolah sirna menatap alam

Hanya berani hembuskan nafas perlahan

Seolah takut timbul lagi gelombang bahaya

 

Harapan perlahan pudar

Angan pun perlahan pergi tinggalkan raga dingin

Sampai tersisa gerigi mengatup jejak masa depan

Tersisa rintihan kalbu dalam raga kosong

Tersisa yakin tanpa percaya pandangan hampa

Tak lagi senyum

Diam bisu genggam khayal dalam gelap

 

Buang saja semua pikiran menang

Genggam hidup pun tak lagi bernilai

Tunggu takdir hadir hangatkan raga

Tunggu takdir hadir bawa secercah cahaya putih

Antar bahagia berselimut doa

Tentramkan tanah sampai laut di hati seribu pulau

 
Leave a comment

Posted by pada November 2, 2010 in Puisi

 

Jerit Dalam Harap

Oleh: Didi Endut

 

Kadang bencana ini bak panggung komedi

Lucu sekaligus mengharu biru

Coba arahkan pandang lebih dalam

Maka ingin tertawa ingin pula menangis

 

Mentawai bukan mencari bakat

Kala rakyat tak mampu diri berjalan

Malah mereka asyik olah raga lempar makanan lalu pergi

 

Merapi bukan layar sinetron

Kala rakyat berduka

Malah mereka asyik minta rumah minta harta

 

Inikah yang disebut prihatin

Inikah yang dikatakan pemimpin sejati

 

Hai angkara murka

Tatap mata sayu kami

Harapan ini bukan sekedar mie instan

Harapan ini bukan pula sekedar nasi telur

 

Lihat jelas tangisan rakyat

Tak lantas air mata ini kan jadi emas

Lihat perjuangan hidup rakyat

Tak mungkin pula tetesan keringat sengsara ini jadi berlian

 

Kawan

Bantu bukan sekedar kerja berlumur keringat

Pakai hati pakai iman dan takwa

Bekerja bukan sekedar mencari wibawa

Namun perut lapar masih terasa di sudut kota

 

Mulailah dari hati

 

Rakyat ini manusia juga bung

Bukan binatang bukan pula tumbuhan

Perlakukan makanan kami layaknya manusia

Perhatikan gizi serta kemasannya

 

Rakyat ini manusia juga bung

Bukan binatang bukan pula tumbuhan

Perlakukan makanan kami layaknya manusia

Singkirkan bakteri juga lalat dan sumber penyakit

 

Bila mungkin raga tak lepaskan sukma

Sayangi kami layaknya kekasih

Cium kami layaknya bapak pada anaknya

Peluk kami dengan kasih kelembutan ibu

Hingga kami bangkit

Tinggalkan derita lalu tertawa tanpa ragu tanpa tangisan

 
Leave a comment

Posted by pada November 2, 2010 in Puisi

 

Bercermin Pada Cermin

Oleh: Didi Endut

 

Sadar usia tak lagi balita

Sadar usia tak lagi remaja

Sadar usia tak lagi pemuda

Ku tak lagi mampu berdalih

Hanya diam tanpa nada

Hanya bisu berselimut duka

 

Anggunnya mahkota hidupku

Kini perlahan sirna tertelan usia tua

Kokohnya keangkuhan ku kala berkilau

Kini pudar tergilas tahta masa depan

 

Hanya sisa kenangan suka

Beralas jutaan alasan

Berbusana sesal dalam bathin ku

Hampa sertai tiap langkah

 

Kala ku mekar bak kembang pagi hari

Ku terbuai hingga lupa dalam hitungan waktu

Kala raga ku bergelimang suka

Ku lupa kelak hilang tak berjejak

 

Kini ijinkan ku tapaki cakrawala derita

Tanpa suara ku hampiri duka

Ku selami hingga dasar sengsara

Tuk beri hembusan nafas suka

Hingga lara hilang ganti tawa

Hingga mampu berdiri tanpa berbaring

Tatap berani tangisan bencana

Sibak hari ukirkan kembali harapan hidup

 

Kawan

Inilah hidup dunia ku

Inilah sandiwara gagal dialog tanpa sastra

Baru mulai sudah hancur tanpa bahasa

Main di tiap babaknya

Tuk tahu nikmatnya tiap detak dalam detik

Baru sanggup hidup dalam kematian masa depan

 
Leave a comment

Posted by pada November 2, 2010 in Puisi

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.