Siapa yang tak kenal tikus? Ya, hewan kecil berbulu abu-abu atau hitam ini tergolong hewan mamalia. Tikus mempunyai nama latih Rattus bowersii. Mereka masuk ke dalam Ordo Rodentia atau hewan pengerat.
Bagi sebagian warga Indonesia maupun seluruh dunia, pasti beranggapan bahwa tikus itu sebagai hewan kecil yang menyebalkan. Ya, walaupun sebagian warga begitu menyayangi mereka hingga merawatnya bak anak sendiri.
Alasan tikus menjadi hewan menyebalkan di dunia bukan karena bentuk tubuh atau tempat hidupnya yang kotor, melainkan karena tingkah lakunya yang tidak terbuka dan lebih gemar mengambil kesempatan dibelakang orang tanpa tanggung jawab atas hasil tindakannya. Tak jarang tikus pun tidak menghargai jerih payah manusia, artinya tanpa peduli sekitar, tikus merusak serta mengacaukan kehidupan manusia sebagai hama tanaman. Sehingga banyak orang menjadi rugi dan kehilangan mata pencarian. Begitulah tingkah laku tikus yang menyebalkan.
Bila dilihat secara pembinaan kepribadian, hewan kecil hitam itu, sesungguhnya dapat menjadi pelajaran penting dalam pembinaan karakter tiap orang. Pasalnya, si kecil itu banyak memberikan inspirasi positif yang dapat kita petik manfaatnya.
Salah satunya ialah pelatihan waspada. Tanpa kita sadari, tikus, menjadi guru besar bagi pelatihan insting waspada kita. Bayangkan saja, tanpa adanya tikus di dalam rumah atau kantor kita, maka insting waspada kita menjadi rusak, artinya kita akan sembarangan meletakkan makanan atau minuman bahkan benda-benda kecil. Hal itu perlahan membuat kita menjadi pribadi sembarangan dan meremehkan barang elektronik maupun makanan. Bukankah demikian menjadikan kita menjadi makin tak teratur dan berantakan?
Keberadaan tikus pun secara perlahan, melatih kita untuk mawas diri. Pasalnya, sebagai manusia kita sering lupa cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Kita sering kali beranggapan bahwa ketika tangan kita mengambil makanan ringan, takkan mengotori apapun yang kita sentuh, padahal hal itu justru penyebab utama kerusakan fatal dalam hidup. nah, dengan teringat tikus maka mau tak mau kita akan cuci tangan sebelum makan karena takut kencing tikus atau sesudah makan karena takut tikus merusak barang yang kita sentuh meninggalkan aroma sedap bagi si tikus.
Sifat baik tikus lainnya yang perlu kita pelajari bersama ialah bahwa tikus itu tergolong hewan pengerat terpintar di dunia. Kemampuan nalar serta analisa ruangnya luar biasa. Dalam kondisi gelap, tikus mampu bertahan hidup serta tak kesulitan dalam menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan diri. Tikus pun tak pernah putus asa untuk mencari jalan baru sebagai jalan keluar saat ia terjebak dalam situasi bahaya. Tikus tergolong hewan mamalia yang gemar makan apa saja dan tidak memilih makanan yang ada dihadapannya, semua yang ada dimeja makan pastilah habis dimakannya. Tak seperti kita manusia, mau makan saja mesti jenis makanan inilah, itulah, pakai bumbu inilah, ramuan itulah, yang sungguh hal itu membingungkan perut serta membuat kita bingung untuk makan.
Usai melihat sifat positif tikus, hendaknya kita dapat intropeksi kembali pada diri kita. Terpenting ialah kita berupaya belajar dan tak patah arang ketika kita mendapati jalan buntu dalam hidup.
Puas melihat serta belajar dari sifat baik si tikus. Sekarang bagaimana dengan sifat negatifnya? Dari segi negatif, tikus pun menempati urutan pertama dalam daftar kejahatan binatang pengerat. Karena kecerdasan serta kepintarannya tinggi, maka tikus dapat menghalal segara cermat cara mendapatkan keinginannya. Walau akan banyak orang disekitarnya yang dirugikan akibat sepak terjangnya. Tikus itu tergolong binatang yang tak sopan dan pencuri ulung. Lihat saja, setiap aksi tikus selalu dilakukan saat tak ada orang dan pada saat suasana gelap. Semuanya menjadi tambah menyebalkan ketika benda kesayangan kita rusak bahkan hancur.
Dalam hidup sehari-hari, kita tak jarang bertemu dengan tipe orang yang memiliki sifat yang serupa dengan sifat si kecil itu. Kelihatannya pendiam, tapi sekalinya mereka bertindak, maka banyak dampak buruk yang dirasakan teman disekitarnya. Paling menyakitkan lagi ialah ketika apa yang mereka lakukan itu terjadi saat kita atau lingkungan lepas pengawasan terhadap dia. Sehingga kerugian makain terasa banyak dan menimbulkan penyesalan dalam lingkungan sekitarnya.
Pribadi tikus ini kerap kali menyesatkan orang lain disekitarnya. Petunjuk yang semestinya benar dapat diputar balikkannya hingga kesalahpahaman terjadi dan peperangan terjadi. Gosip dan perbincangan yang bersifat memprovokasi pun menjadi makanan nikmat bagi pribadi tikus. Mereka gemar menyebarkan isu hingga menjatuhkan teman dan kerabatnya. Mereka hidup dalam kenikmatan diatas penderitaan sesama serta tak rela melihat kita tenang dan hidup damai.
Untuk itu, bukan kewajiban kita menghukumnya, melainkan kita wajib menambah kewaspadaan saat kita bertemu dengan tipe orang seperti ini. Kalau perlu, kita jauhi serta bersikap seadanya saja sesuai keperluan kita dengan dia. Bila kita ikuti ucapan serta tingkah lakunya, maka yang ada kita sendiri yang terjebak dalam ketidakpastian serta terjerumus dalam kesalahan yang sudah dipersiapkannya untuk menjebak kita.
Bukan berarti pula kita menjauhi mereka yang bersifat seperti si tikus, hanya saja kita sendiri yang wajib berhati-hati agar kita tak terjebak dalam pola pemikiran mereka. Kita yang harus menjaga hati, agar kita tak terseret untuk mengikuti tingkah laku yang mengubah kita sama seperti tikus yang berkelakukan negatif.
Sebagai manusia berbudi, kita pun terkadang melakukan hal yang serupa dengan tikus. Nah disinilah intropeksi diri diperlukan agar kita tidak melakukan hal kurang terpuji seperti si tikus. Kita pun perlu menyadari bahwa hidup ini bukan sepenuhnya milik kita seorang, melainkan milik bersama antar sesama makhluk hidup di dunia. Dengan demikian, kita dapat saling membantu dan tidak mengambil keuntungan semaunya sehingga orang lain menderita.
Mari kita belajar serta mengarahkan hidup kita ke jalan hidup yang terbuka, jujur dan dapat dipercaya. Hindari perbuatan buruk dan selalu waspada akan virus perbuatan tak terpuji seperti kelakukan si tikus.