RSS

Belajar dari Sang Mantan Ratu

15 Nov

Pagi ini, penulis membaca sebuah artikel di Liputan6.com. Kisah ini cukup menarik untuk kita analisa secara sederhana dari pandangan manusia awam. Namun sebelum kita menganalisanya, mari kita membaca cerita saduran dari Liputan6.com ini terlebih dahulu:

”Liputan6.com, Sattur: Hidup dalam kemiskinan. Itulah yang kini dijalani Appamma Kajjallappa, istri ketiga Raja Venkateswara Ettappa, penguasa di Virudhunagar, India. Bersama anaknya, dia rela hidup di sebuah gubuk dan berjuang keras untuk mendapatkan sesuap nasi.

Lho, memang ke mana harta benda peninggalan suaminya “Sudah saya sumbangkan ke rakyat,” kata Appama, baru-baru ini. Bahkan, istana peninggalan juga sudah berubah menjadi sebuah sekolah demi memenuhi permintaan rakyat.

“Anggota keluarga kami sangat murah hati. Kami menyumbangkan segalanya demi kejehateraan desa. Itulah yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin,” tambah Appama.

Appama menambahkan, “Mungkin dulu saya adalah seorang Ratu, tapi kini saya bukan siapa-siapa lagi. Kami sangat miskin.”

Beberapa penduduk desa merasa iba dengan nasib Ratu mereka. Sebenarnya, Appamma bekerja di kuil saat ada perayaan ataupun persembahan. Namun, setiap kali penduduk ingin memberikan sesuatu, Appama selalu menolak. Ia beranggapan melayani kuil suci merupakan suatu kehormatan bagi dirinya.(Bernama/DES/ULF)”

Tentu bagi sebagian orang, yakni pembaca dan penulis, kehidupan mewah serta bergelimang harta adalah tujuan yang seolah-olah wajib diperoleh dan dinikmati di masa tua. Jarang sekali kita ingin merasakan hidup serba kekurangan bahkan ”miskin”. Sehingga segala daya upaya kita lakukan hingga terkadang melukai perasaan orang lain bahkan keluarga sendiri.

Awalnya, ketika penulis baru saja membaca cerita di atas, penulis beranggapan bahwa perempuan mantan Ratu India ini begitu bodoh, dimana ia menyumbangkan semua hartanya demi orang lain disekitarnya, padahal, belum tentu masyarakat di sekitarnya bersedia untuk menjamin kehidupan mereka.

Apalagi di jaman sekarang, kehidupan begitu tak mudah, persaingan serta kompetisi di dunia kerja dan bisnis kian ketat, tentu bila kita mempunyai harta tak mungkin kita bagikan atau serahkan semua pada orang lain yang bukan kerabat atau saudara kita.

Namun setelah diamati lebih dalam, terperinci dan dilihat dari sisi lain, maka penulis justru kagum pada pengorbanan sang Ratu untuk masyarakat di sekitarnya. Disini banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik dan kita hayati maknanya.

Pelajaran pertama yang dapat kita petik manfaatnya ialah pelajaran cara berkorban demi orang lain. Dari kalimat, Kami menyumbangkan segalanya demi kesejateraan desa.” terlihat jelas bahwa harta bukanlah hal utama dalam kehidupan sang Ratu. Melainkan kesejahteraan banyak oranglah yang menjadi prioritas dalam kehidupannya. Tuhan memberikan segalanya pada kita dengan kapasitas yang kita miliki. Namun ketika orang banyak membutuhkannya, terkadang kita justru lupa untuk memanfaatkan kapasitas karunia Tuhan ini untuk membantu sesama yang kekurangan. Lain halnya dengan sang Ratu. Justru ketika masyarakat membutuhkannya, ia rela membiarkan dirinya menderita demi kebahagiaan masyarakatnya.

Mungkin sulit bagi kita untuk bertindak seperti sang Ratu. Namun kita dapat belajar semangat sang Ratu untuk menyisihkan sedikit harta kita bagi mereka yang membutuhkan. Contoh mudahnya seperti ini, saat ini terjadi bencana di berbagai kawasan dunia. Indonesia di merapi, mentawai, serta wasior. Nah, saatnya kita berlatih untuk mengorbankan sedikit harta kita untuk mereka. Tentu bukan makanan saja yang kita berikan. Tapi berikan pula sebagian dari sandang berupa pakaian atau selimut untuk mereka gunakan. Justru bukan sebaliknya, dimana kita malah berdebat saat membeli pakaian baru menjelang hari raya atau mengganti barang dirumah yang kusam.

Lalu pelajaran yang kedua yang dapat kita pelajari ialah kerendahan hati sang Ratu. Kita lihat paragraf ini, Beberapa penduduk desa merasa iba dengan nasib Ratu mereka. Sebenarnya, Appamma bekerja di kuil saat ada perayaan ataupun persembahan. Namun, setiap kali penduduk ingin memberikan sesuatu, Appama selalu menolak. Ia beranggapan melayani kuil suci merupakan suatu kehormatan bagi dirinya.

Pada paragraf ini, bukan lantaran kebodohan sang Ratu yang menolak pemberian dari orang, atau kegengsian mereka untuk menerima bantuan dari orang lain, tapi inilah yang dinamakan kerendahan hati serta ketulusan dalam melakukan sesuatu.

Terkadang, termasuk penulis, beranggapan bahwa pekerjaan atau perbuatan yang kita lakukan di dunia ini, semuanya haruslah mendapatkan imbalan. Bahkan ketika kita tak lagi sanggup bekerja serta memohon pada orang, kita lalu berdoa dan memohon pada Tuhan. Memang sih, berdoa pada Tuhan untuk memohon sesuatu terkadang berhasil, namun tak semua hal perlu kita mohonkan pada Tuhan untuk diberikan pada kita.

Sang Ratu, bekerja sebagai pembersi kuil, sepertinya terlihat menyedihkan serta tergolong sebagai pekerjaan hina. Namun, kita lihat, bahwa ditengah keterbatasan yang ia miliki, ia mampu meluangkan waktu hidupnya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak berpenghasilan, ia justru meluangkan waktu mengerjakan sesuatu yang terhormat di mata Tuhan. Walau kemiskinan dihadapinya setiap saat, sang Ratu rela melakukan sesuatu yang lebih bagi Tuhan dan Dewanya. Ini mengajarkan bahwa bukan uang atau materi saja yang dapat diperoleh di dunia ini. Namun yang terutama ialah kepuasan serta rasa bersyukur ketika kita mampu mengerjakan sesuatu yang menyenangkan serta menentramkan hati ini.

Kerendahan hati saat membersihkan kuil, tanpa dibayar, perlu kita lihat dan hayati. Dan ketika kita mampu menghayati, maka perlahan kita pun tumbuh menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Dengan pengertian bahwa apa yang kita lakukan saat ini, bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan keikhlasan dalam hidup ini demi sesuatu yang kita sebut sebagai kewajiban dan kehormatan di mata Tuhan.

Kemudian bila kita mampu menghayati apa yang dilakukan Ratu india, maka istilah ”Uang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang.” perlahan mulai luntur dan kita menjadi pribadi yang penuh kepuasan serta pribadi yang mampu menghargai setiap kondisi dalam hidup ini.

Mulai dari diri kita untuk belajar, maka pengetahuan pun semakin bertambah, dan budi pekerti semakin meningkat.

 

Sumber cerita: http://berita.liputan6.com/luarnegeri/201011/306441/Mantan.Ratu.India.Hidup.dalam.Kemiskinan

 

Tentang galerihati

Let's make a good work
Leave a comment

Posted by pada November 15, 2010 in Umum

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.