RSS

Sukses Bukan Aku Tapi Berkat Mereka

05 Jan

Tanpa kita sadari bahwa keberhasilan atau kesuksesan kita sesungguhnya tak sepenuhnya berkat usaha atau upaya kita sendiri. Pasti dibalik keberhasilan yang kita agung-agungkan serta banggakan itu ada mereka yang berjasa mendorong atau menopang kita ke puncak kesuksesan saat ini.

Ada pepatah klasik berkata bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Pepatah klasik ini benar dan seratus persen beralasan kuat. Justru itu, adanya pengalaman tentu ada sebuah kondisi dimana terjadi interaksi yang menyebabkan terciptanya kondisi itu. Sebuah kondisi tercipta tentu melibatkan tak kurangnya beberapa orang yang berinteraksi satu sama lain. Sehingga tak masuk akal bila kita melupakan bahwa kondisi baik atau keberhasilan kita itu berdasarkan dari keberuntungan atau kemampuan kita seorang diri dan tanpa pengaruh dari orang lain di sekitar kita.

Jaman sekarang ini, seringkali kita melupakan mereka yang memberikan kesempatan bagi kita untuk maju mendulang kesuksesan, bahkan saat ini mereka yang berjasa pada kita, justru kita lupakan, lalu merebut jasa mereka dengan mengatakan bahwa pencapaian kita akan keberhasilan itu berkat diri sendiri yang telah berusaha dan bekerja keras. Malahan mereka yang berjasa, kita lupakan dan tak bersedia lagi kita kenal. Sungguh ironis bukan.

Mudahnya seperti ini. Apakah seorang sales marketing yang mampu mencapai angka penjualan tertinggi berkat usahanya sendiri? Jawabnya benar. Tapi tidak sepenuhnya dia. Mari kita rinci dari proses sampai dia sukses.

Seorang sales marketing yang sukses tentu menjual produk. Produk tentu mempunyai kualitas tersendiri bukan. Tak mungkin produk yang buruk mampu disukai orang dan mendapat pelanggan. Produk itu sendiri tentunya ada penciptanya sehingga dapat dikreasikan lalu diolah hingga menjadi sebuah barang. Nah dari sini saja sudah terlihat beberapa orang didalamnya yang mendukung keberhasilan si sales marketing. Siapakah mereka? Ya, pertama tentu si pencipta produk berkualitas itu, lalu selanjutnya ialah mereka yang andil dalam memproses mulai dari bahan baku hingga jadi. Kemudian, mereka yang membungkusnya dalam kotak atau wadah secara rapi pun memegang peranan penting, dan si pengirim barang yang mengantarkan dari pabrik….oke stop. Prosesnya sampai disini saja. Yang jelas begitu banyak rekan kerja yang terlibat. Belum lagi atasan yang mempromosikan kita.

Nah dari proses di atas, apakah kita masih pantas menyombongkan diri untuk mengakui keberhasilan itu adalah berkat kemampuan diri kita seorang diri? Bukankah bila demikian halnya kita sama dengan manusia yang tidak tahu malu dan tak pantas dihormati?

Kesalahkaprahan ini hendaknya dicukupkan sampai disini. Hentikan kearoganan serta egois kita yang selalu memandang sebelah mata pada apa yang kita lakukan serta apa yang kita alami saat ini.

Seharusnya kita senantiasa berlaku bijaksana serta rendah hati dalam menerima tiap kondisi dalam hidup. Egois boleh, sombong boleh, tapi perlu kita tahu bahwa sebagian besar dari perjalanan hidup kita ini bukan karena kita, melainkan dari banyak orang di sekitar kita. Bila menyadari hal ini, maka kita dapat mengerti bahwa kita ini sebagian kecil dari ciptaan Tuhan yang mudah punah dan rapuh.

Pepatah klasik pun pernah berujar bahwa padi kian berisi kian merunduk. Artinya bukan hanya orang yang memiliki kepandaian saja yang makin rendah hati, namun hakikatnya ialah mereka yang mencapai keberhasilan makin tinggi, hendaknya makin tahu berbuat rendah hati, sebab makin suksesnya seseorang, tentunya makin banyak melibatkan banyak orang, sehingga tak ada alasan bagi orang untuk mengakui tiap keberhasilannya karena miliknya sendiri dan berkat kemampuannya sendiri.

Alangkah menggelikan bila seorang bos atau pimpinan perusahaan berkata bahwa keberhasilan perusahaannya karena upayanya mengkoordinasi pegawai, atau karena dia sekolah di luar negri. Padahal dapat dibayangkan andai saja tak ada satu orang pun yang memberikannya bekerja di perusahaan itu, atau tak ada seorang pun yang membeli produk perusahaannya, apakah pimpinan itu masih dapat berkata seperti itu?

Untuk itu, hendaknya kita senantiasa bercermin pada tiap keadaan yang terjadi di sekitar kita. Satu hal yang perlu kita pahami bahwa adanya kita bukan sepenuhnya kita seorang, melainkan adanya dukungan serta kerjasama yang baik antara satu orang dengan orang lainnya.

Marilah kita mulai menjalin hubungan baik dengan semua orang. Hilangkan jabatan serta ekonomi dalam tiap hubungan antar sesama. Tujuannya agar kita mampu menjalin keharmonisan dengan sesama dalam setiap kesempatan di dunia ini. Semangat bekerja sama.

 

Tentang galerihati

Let's make a good work
Leave a comment

Posted by pada Januari 5, 2011 in Sharing

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.